banner 728x250
Daerah  

Dadang Naser Apresiasi Swasembada Beras 2026, Minta Pemerintah Perkuat Pangan Nonberas

Bandung Raya – Anggota Komisi IV DPR RI, Dadang Naser, mengapresiasi keberhasilan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang secara resmi mendeklarasikan swasembada beras pada 2026.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa capaian tersebut harus menjadi langkah awal menuju kemandirian pangan nasional yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada beras.

Sebagai mitra kerja sektor pangan, Dadang mengaku bangga atas pencapaian swasembada beras yang dinilainya sebagai langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Meski begitu, ia menilai tantangan ke depan adalah bagaimana Indonesia mampu menekan impor dan memperluas ekspor komoditas pangan lainnya.

“Setelah swasembada beras, kita ingin swasembada pangan di bidang yang lain. Kita harus lebih banyak ekspor daripada impor, terutama pada komoditas yang selama ini ditinggalkan,” ujar Dadang kepada wartawan, baru-baru ini dirilis, Jumat (16/01/2026).

Dadang menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum dan tepung terigu, yang selama ini terus menyedot devisa negara. Menurutnya, kondisi tersebut harus segera direspons dengan mempercepat diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal.

Ia mendorong agar produk pangan olahan nasional, khususnya mi instan, ke depan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada terigu impor, melainkan mulai beralih menggunakan tepung lokal hasil pertanian dalam negeri.

“Suatu saat mi instan tidak terlalu berbasis terigu, tetapi berbasis tepung-tepung dari hasil pertanian kita, seperti tepung singkong, tepung beras, tepung sukun, dan lainnya,” jelasnya.

Langkah diversifikasi pangan tersebut diyakini tidak hanya mampu menekan angka impor, tetapi juga menciptakan keseimbangan ekonomi pangan nasional, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta memperkuat kesejahteraan petani lokal.

Selain sektor karbohidrat, Dadang juga menekankan pentingnya swasembada protein hewani, baik dari sektor perikanan laut, perikanan darat, maupun peternakan.

Ia menyoroti masih tingginya impor susu nasional yang harus ditekan melalui peningkatan kualitas bibit sapi dan pengembangan ternak unggul dalam negeri.

Menurutnya, kemandirian pangan sejati tidak hanya diukur dari ketersediaan beras, tetapi mencakup seluruh rantai pangan nasional, mulai dari karbohidrat hingga protein.

“Kemandirian bukan sekadar di beras, tetapi juga di komoditas lainnya, termasuk protein dan susu, agar kita tidak terus bergantung pada impor,” pungkasnya.***(Abdul)